RAHMA, FARIDATUR ITSNA (2026) ANALISIS PENDEKATAN PERSON CENTERED THERAPHY PADA KORBAN KEKERASAN SEKSUAL DALAM MEMBANGUN KEPERCAYAAN DIRI. Sarjana (S1) thesis, Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri.
COVER.pdf
Download (1MB)
AWALAN.pdf
Download (612kB)
BAB I.pdf
Download (954kB)
BAB II.pdf
Restricted to Registered users only
Download (1MB) | Request a copy
BAB III.pdf
Restricted to Registered users only
Download (974kB) | Request a copy
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only
Download (1MB) | Request a copy
BAB V.pdf
Download (909kB)
DAFTAR PUSTAKA.pdf
Download (925kB)
LAMPIRAN.pdf
Restricted to Registered users only
Download (2MB) | Request a copy
Abstract
Berdasarkan observasi awal dan wawancara yang dilakukan terhadap informan penelitian, ditemukan pertanda bahwa meskipun gejala traumatis seperti (flash back) telah berangsur membaik, namun kepercayaan diri tetap menjadi aspek utama yang memengaruhi kondisi informan. Dari data yang dikumpulkan, informan memiliki sifat kurang percaya diri serta sering menggunakan bahasa verbal yang merendahkan diri sendiri. Hal ini
menjadikan perlunya intervensi yang lebih dalam berupa analisis kondisi
internal informan, mengingat bahwa dampak negatif yang dialami sangat
berpengaruh terhadap proses pemulihannya dalam bersosial. Penelitian ini
bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi psikologis kepercayaan diri pada korban kekerasan seksual serta mendeskripsikan pendekatan Person Centered Therapy (PCT) pada korban kekerasan seksual dalam membangun kepercayaan diri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Subjek atau konseli dalam penelitian ini adalah tiga orang yang mengalami kekerasan seksual dan satu orang teman sebaya. Penentuan sampel menggunakan teknik purposive. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara, observasi dan dokumentasi. Sedangkan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan PCT berhasil membantu korban kekerasan seksual dalam membangun kepercayaan diri melalui proses konseling yang dilakukan dengan empat tahapan yaitu keterbukaan terhadap pengalaman, kepercayaan terhadap diri, kemampuan melakukan evaluasi internal dan kesediaan menjadi suatu proses. Peneliti bertindak sebagai fasilitator yang menciptakan ruang konseling yang nyaman sesuai dengan prinsip inti PCT, yaitu emphaty, congruensi, dan unconditional positive regard. Simpulan penelitian ini
menunjukkan bahwa pendekatan PCT bisa menjadi pilihan dalam membantu konseli berproses membangun kepercayaan dirinya melalui ruang konseling yang nyaman untuk menyampaikan pengalaman, dan perasaan yang dialami
tanpa dipaksakan. Saran peneliti selanjutnya dapat melanjutkan penelitian dengan menambah faktor lain seperti dukungan keluarga, atau berfokus pada pemulihan trauma kekerasan seksual dengan metode dan pendekatan yang berbeda.
